
Founder Kakkk Ayam Geprek (KAG) Ferry Setiawan bersama partner KAG Randy Chrispian saat memperkenalkan menu Nasi Campur KAG di Surabaya. (Foto: Beritasatu Photo/Amrozi Amenan)
Surabaya, Beritasatu.com - Inovasi di bisnis kuliner baik dari sajian menu maupun pola pemasarannya menjadi kunci keberhasilan untuk bertahan di masa pandemi. Kiat itulah yang kini dilakukan Kakk Ayam Geprek (KAG) untuk mempertahankan 17 gerainya di 14 kota besar di tanah air.
Founder KAG, Ferry Setiawan mengungkapkan, saat ini KAG memiliki 17 gerai yang tersebar di 14 kota di Indonesia. Yakni, di Surabaya, Bali, Solo, Sidoarjo, Kediri, Mojokerto, Madiun, Pare, Trawas (Mojokerto), Jakarta, Makassar, Samarinda dan Labuanbajo.
"Awal pandemi Covid-19, memang sempat mengganggu cashflow bisnis, hingga terpaksa harus melego aset mobil untuk sekedar bisa bertahan. Namun, saya yakin bisnis kuliner akan mampu melewati masa pandemi asalkan cashfliow bisa terjaga," tutur Ferry, di Surabaya, Sabtu (5/12/2020).Sampai akhirnya, kata Ferry, terlintas pikiran untuk melakukan inovasi dalam penyajian menu ayam geprek, yakni menggabungkan nasi campur Bali dengan ayam geprek. Menu ini, berupa racikan ayam geprek yang dipadu dengan suwiran ayam, lawar, telur bumbu, kentang kering, kacang goreng, sambal embe dan sambal matah, plus kuah kuning berempah. Menu itu dikemas dengan kemasan yang tak biasa, yakni kertas bungkus.
"Kami menamai Nasi Campur KAG ini adalah 'edisi nostalgia' untuk mengenang kembali saat kami dan kolega kami, Randy Chrispian, mengawali berjualan nasi bungkus dengan gerobak pada 2014 lalu. Dan, kami menghadirkan nasi campur khas Bali namun dengan sensasi beda, karena kalau memakai bungkus kotak atau plastik kurang nendang. Makanya kami mempertahankan kertas bungkus namun dengan look yang menarik,” jelasnya.
Ferry mengakui, sajian menu dengan kertas bungkus ini kontradiktif dengan kondisi saat ini, dimana masyarakat sangat memperhatikan kesehatan, kebersihan, dan sebagainya. Namun, hal itu justru memacunya untuk menampilkan produk yang sangat menjaga higienitas, kebersihan, dan kesehatan.
"Dengan tetap menjaga kualitas dan layanan, kami bisa menjadi pilihan di saat krisis ekonomi saat ini. Pasalnya, dengan harga promo yang kami patok hanya Rp 11.000, ternyata banyak konsumen dari berbagai segmen, baik milenial hingga orang dewasa sangat meminati Nasi Campur ini," terang Ferry.
Tak cukup dengan sajian menu dan kemasan, inovasi pemasarannya juga turut mendongkrak penjualannya. Memanfaatkan follower IG yang organik dan aktif, Ferry mulai memperkenalkan Nasi Campur KAG dan mendapat respon baik. "Di hari pertama, terjual 996 pack, dan terus naik di hari berikutnya," paparnya.
Sejak penjualan tembus hingga 1.000 pack per hari di hari kedua, penjualan dihentikan sampai sepekan berikutnya. "Selain memberi kesempatan masukan dari konsumen, masa vakum itu juga sebagai trick untuk membuat masyarakat kian penasaran,” kata Ferry.
Ternyata, strategi tersebut terbukti. Setelah dibuka kembali sepekan kemudian, animo konsumen meningkat hingga menembus penjualan 1.200 pack per hari. Menariknya, sekitar 90 persen pesanan adalah melalui ojek online (Ojol). Bahkan, konsumen dan ojol rela menunggu hingga 2 jam untuk bisa mendapatkan Nasi Campur KAG.
Saat ini, di tiga gerai KAG yang ada di Surabaya, rata-rata mampu menjual 1.124 pack Nasi Campur KAG setiap harinya, mulai jam 11.00 siang hingga 21.00 WIB.
"Ini sudah mentok dengan kapasitas produksi dan kemampuan SDM kami. Karena ayam geprek itu tidak bisa dibikin secara massal atau mesin. Jadi harus satu-satu. Namun, kami akan terus melakukan perbaikan dan mengoptimalkan menu demi kepuasan konsumen," ujarnya.
Ferry menilai, potensi produknya untuk terus berkembang masih besar. Alasannya, saat ini sekolah atau kampus masih belum dibuka pembelajaran tatap muka, demikian juga sebagian perkantoran masih menerapkan work from home (WFH).
"Namun kami sudah memiliki menu yang tengah dimatangkan untuk siap diluncurkan lagi nantinya. Tunggu saja. Yang jelas menu yang kami hadirkan tak pernah lari dari identitas, yakni ayam, telor, dan sambal," ungkap Ferry.